Breaking News

Metaverse dan Dunia Hayati

Metaverse penting dalam pembelajaran ilmu hayati di masa depan dengan “menghidupkan kembali” berbagai flora dan fauna baik yang sudah punah maupun yang masih hidup secara virtual. Beberapa waktu lalu, kita sempat dihebohkan dengan berita viral oleh seseorang pemuda bernama Sultan Gustaf Al Ghozali atau dikenal sebagai Ghozali Ghozalu. Pemuda ini berhasil meraup keuntungan Rp 1,5 miliar dari hasil penjualan Non-Fungible Token (NFT) swafoto selfie miliknya pada platform Opensea.io. Sejak berita tersebut menjadi viral di media sosial, maka platform virtual menjadi dunia baru untuk memperoleh keuntungan finansial, salah satunya dengan konsep yang futuristik seperti metaverse.

Metaverse dan Dunia Hayati
Dunia Metaverse

Apakah itu metaverse?
Menurut saya, dunia lain adalah istilah yang sesuai dengan konsep metaverse yang mungkin muncul karena keterbatasan sumber daya dan perubahan sosial perilaku masyarakat global. Sedangkan istilah metaverse muncul pertama kali pada novel Snow Crash yang ditulis oleh Neal Stephenson pada tahun 1992. Neal menggambarkan metaverse sebagai sebuah sebuah dunia virtual dengan konsep 3D atau tiga dimensi yang dihuni oleh avatar-avatar pengguna.

Baca Juga:

Hangatnya, dunia memberitakan bahwa CEO Facebook, Mark Zuckerberg, telah mengganti nama perusahaannya Facebook menjadi Meta Platform Inc. atau disingkat dengan Meta. Sebuah gagasaan futuristik yang berkonsep untuk menciptakan seperangkat ruang virtual yang dapat dijelajahi dan dimiliki sumber dayanya bersama dengan orang lain secara maya atau non fisik. Dunia baru berkonsep metaverse yang notabenya merupakan ruang maya tentu memiliki sumber daya yang tidak terbatas. Itulah mengapa sebelumnya saya mengatakan bahwa kosep metaverse mungkin muncul karena keterbatasan sumber daya. Dunia yang kita huni semakin lama semakin menipis terhadap segala bentuk sumber daya. Sumber daya manusia, sumber daya non-hayati, sumber daya hayati, bahkan sumber daya ruang dan waktu.

Diprediksi, pengembangan metaverse ke depan mampu dimanfaatkan sebagai situs jual beli yang nyata dan umum, seperti aset rumah, tanah, bangunan, dan lainnya. Pola perubahan sosial juga memicu perkembangan konsep metaverse. Sebagai contoh pesatnya perkembangan telepon pintar (smartphone) terus berubah sepanjang masa, bahkan dalam hitungan bulan, berbagai perusahaan terus melakukan perbaikan dan inovasi untuk menciptakan “kehidupan virtual” yang semakin nyaman bagi penggunannya. Tidak heran jika manusia generasi sekarang lebih senang jika bermain dengan “teman virtual” seperti gim, media sosial, dan fitur lain daripada teman di dunia nyata. Pertanyaanya bagaimana kita mampu memanfaatkan peluang dengan kehadiran metaverse?

Peluang "metaverse" di bidang biologi
Metaverse sudah mulai dikembangkan di dunia ekonomi digital, market place, dan jasa keuangan lainnya seperti mata uang kripto (cryptocurrency) sebagai salah satu alat pembayaran di dunia gim. Namun adakah, dan bagaimanakah peluang metaverse dalam kelestarian sumber daya alam hayati mengingat Indonesia adalah salah satu negara megabiodiversity di dunia?

Pernahkah saudara melihat film Jurrasic Park yang diadaptasi dari novel karya Michael Crichton; atau Jurrasic World yang disutradarai oleh Colin Trevorrow; atau Ice Age film animasi yang ditulis oleh Michael J Wilson. Lantas apa hubungan ketiga film tersebut dengan perkembangan konsep metaverse?

Jika kita cermati maka dalam film tersebut terdapat suatu gambaran kehidupan di masa lampau seperti dinosaurus, mammoth, dan lainnya. Padahal jenis-jenis fauna tersebut adalah hewan yang sudah punah ratusan bahkan ribuan juta tahun yang lalu. Inilah mengapa metaverse penting dalam pembelajaran ilmu hayati di masa depan dengan “menghidupkan kembali” berbagai flora dan fauna baik yang sudah punah maupun yang masih hidup secara virtual.

Metaverse penting dalam pembelajaran ilmu hayati di masa depan dengan “menghidupkan kembali” berbagai flora dan fauna baik yang sudah punah maupun yang masih hidup secara virtual.

Pemanfaatan metaverse dalam bidang biologi juga dapat membantu siswa memahami suatu gambaran yang sangat nyata dalam proses pembelajarannya di masa depan. Siswa akan mampu mengalami, merasakan, mengetahui, dan memahami kehidupan flora fauna yang telah punah dengan lebih nyata dengan ruang virtual bernama metaverse.

Demikian juga, kelestarian sumber daya bumi yang kian menipis akan lebih terjaga dengan menggunakan konsep metaverse dalam bentuk ruang pembelajaran dan ruang pariwisata. Flora dan fauna terancam punah seperti Badak Bercula Satu, Komodo, Elang Jawa, bunga Raflessia, dan lainnya dapat digunakan sebagai obyek dan tempat rekreasi yang nanti dapat bergesar secara virtual.

Pembuatan obyek wisata virtual dapat mencegah kerusakan ekosistem yang disebabkan oleh masuknya wisatawan ke dalam ekosistem alaminya. Selain itu, kesehatan flora dan fauna lebih terjaga, sehingga kemampuan reproduksi mampu berkembang secara optimal sehingga kepunahannya dapat dicegah.

Sisi lain dunia baru "metaverse"
Konsep metaverse ini hampir sama dengan suatu sub aliran dari novel ringan, manga, anime, dan permainan video Jepang yang dikenal dengan isekai (“dunia berbeda” atau “dunia lain”). Namun ada beberapa masyarakat yang salah anggapan bahwa isekai adalah dunia yang sebenarnya. Sehingga, oknum tersebut menganggap dunia yang saat ini dihuni menjadi sesuatu yang tidak penting. Inilah salah satu contoh ancaman terhadap gambaran metaverse di masa depan.

Namun konsep metaverse juga dapat menjadi ancaman bagi kehidupan manusia, karena dunia virtual yang berkembang sekarang ini dibantu dengan bantuan alat VR atau virtual reality dan pengalaman virtual yang diperoleh belum begitu nyata.

Metaverse juga dapat memunculkan suatu pemikiran negatif baru di masyarakat bahwa kehidupan nyata bukanlah suatu hal yang penting, karena masih ada kehidupan lain di metaverse yang dianggap lebih bermakna. Selain itu, dalam masa pengembangan, metaverse masih belum berupa dunia yang aman untuk beraktivitas. Sebagaimana yang telah dialami oleh Nina Jane Patel, co-founder dan Vice President of Metaverse Research pada Kabuni Ventures yang baru-baru ini telah mengalami pelecehan seksual setelah beberapa saat memasuki metaverse gagasan Meta, Horizon Venues.

Hal ini menggambarkan bahwa tingkat keamanan di dalam metaverse belum tersedia. Karena suatu dunia baru tentu harus memiliki suatu aturan yang spesifik baik norma dan tingkah laku. Hak asasi manusia juga belum diketahui apakah mengikat suatu avatar seseorang, karena jika tidak diantisipasi, maka besar kemungkinan terjadi kasus yang sama di dalam metaverse. Oleh sebab itu, perlu berhati-hati dalam menggunakan suatu teknologi futuristik walaupun ke depan memiliki peluang terhadap pengembangan berbagai aspek kehidupan.

Ditulis oleh Samuel Adi Junior

5 komentar:

  1. Apa beda antara metaverse dan alternatif universe?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alternatif universi itu adalah ajang pencarian bakat berdasarkan tingkat kecantikan.

      Hapus
  2. Sepertinya teknologi metaverse ini masih terlalu lama untuk diterima oleh masyarakat dunia saat ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya koq mengangap teknologi ini lebih seperti permainan game online ya? kayak ragnarok gitu,

      Hapus
  3. Kayak film the legend of santuary sepertinya

    BalasHapus